Posted by: ukhtiayu on: Agustus 7, 2011
Di surga kelak… kebahagiaan terbesarku setelah melihat wajah Allah.. adalah memandangi kekasih tercinta… semoga Allah mengijinkannya…
Di surga-Nya kelak… aku ingin sekali bisa menjumpai Rasulullah… jika tidak bisa berdua… beramai-ramai dengan para sahabatnya dan pengemban dakwah yang lain juga tidak apa… karena cukup baginya hanya dengan memandangi wajah agung beliau… sang penyejuk hati… penawar kerinduan yang membuncah…
Saat duduk dalam majelis beliau yang sangat indah… di pinggir telaga Rasulullah yang lebarnya antara kota Bushra di Syam dan kota Shan’a di Yaman. Airnya mengalir dari mata air al-Kautsar, yang lebih putih dari susu, lebih letmbut dari buih dan lebih manis dari madu di lilinnya. Kerikil-kerikilnya adalah mutiara, sungai-sungainya adalah miski. Sungguh tak terbayangkan betapa nyaman dan nikmatnya majelis itu. Di saat mendengarkan suara merdu beliau membacakan ayat-ayat Allah… mendengarkan beliau menyampaikan tentang islam… pastilah begitu sejuk di hati.
Di sanalah pasti akan kutemui Abu Bakar dengan wajahnya yang bijak dan kesabarannya… beliau yang Allah dan Rasul puji sebagai pemilik kebenaran dan selalu membenarkan Rasul-Nya.
Di sana juga pasti ada Umar al-Faruq, sahabat beliau Saw. yang bahkan setan pun akan menyingkir dari jalan yang dilaluinya karena kekuatan dan kekokohannya dalam memegang agama. Lalu aku juga akan melihat Utsman bin Affan yang bahkan para malaikat malu kepadanya.
Kemudian pasti aku akan melihat Ali bin Abi Thali di samping Rasulullahku… dengan wajah yang tampan dan berwibawa menunjukkan keilmuannya yang tinggi… karena beliau adalah kunci dari ilmu sekaligus kerabat serta menantu Rasulullah.
Di sana pastilah banyak sahabat yang mulia… ada Zubair bin Awwam r.a., ada Thalhah bin Ubaidillah r.a., juga Abdurrahman bin ‘Auf r.a., serta Sa’ad bin Abi Waqash r.a… juga para ulama ternama… para mujahid perkasa… para pengemban dakwah yang tak kenal lelah memperjuangkan agama Allah.
Aku hanya ingin.. ingin sekali jadi bagian di antara majelis mereka… dan berharap posisiku tak jauh dari mereka.. agar aku bisa memandangi Rasulullahku.
Jauh di seberang sana ada majelis wanita… di tengah-tengahnya ada Ummahatul mu’minin (para ibunda kaum Muslim) Kadijah r.ah., isteri Rasulullah tercinta… di sampingnya ada Maryam bin Imran, ada Aisyah, ada Fatimah, ada Siti Sarah… dan yang lainnya.
Indah sekali surga itu… indah sekali majelis-majelis itu. Sungguh tak terbayangkan oleh mata yang mampu memandang…
Semua yang ada di dalamnya tersenyum berseri.. hanya ada wajah-wajah ceria…
Tak ada duka… gelisah… ataupun cemas… apalagi rasa takut…
Hanya aku…
Yang tersekat isak tangis di kerongkonganku…
Jika mengingat ilmuku yang sedikit…
Amalku yang kerdil…
Sedekahku yang secuil…
Aku hanya bermohon… dan terus bersholawat kepada kekasihku itu… agar beliau mau memberiku syafaat karena cintaku…
Agar aku bisa merasakan nikmatnya duduk dalam majelis beliau yang indah dan mulia itu…
Dalam surga-Nya yang penuh keahagiaan abadi…
Aku ingin sekali dapat mencintai beliau seperti beliau mencintai umatnya.. walau hanya sepersepuluh atau bahkan seperseribu cinta beliau tidak apa-apa… walau cintaku tak sebesar cintanya Abu Bakar dan Umar… tak seindah cintanya Utsman dan Ali… yang jelas cintaku harus lebih tinggi dari cintaku terhadap diriku sendiri atau siapapun, bahkan kedua ayah bundaku.
Mampukah kita mencintai beliau seperti beliau mencintai kita???
Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi… betapa cintanya beliau kepada kita…
Ingatkah kalian? Detik-detik saat Rasulullah akan meninggal dunia berjumpa dengan Kekasihnya Yang Maha Tinggi.
Di saat Sakaratul maut mendera beliau, ketika putri beliau Fatimah r.ah., berkata, “Aduhai susahnya wahai ayahanda”. “Tidak ada kesusahan bagi ayahmu setelah hari ini, sesungguhnya telah datang kepada ayah sesuatu yang tidak akan luput dari seorangpun, yaitu kematian”, jawab baginda Nabi lembut kepada putri kesayangannya.
Bahkan Aisyah menggambarkan dengan kata-kata beliau tentang beratnya kematian yang dihadapi oleh baginda Nabi Saw. suaminya itu, “Aku tidak pernah lagi merasa iri akan mudahya seorang degnan kematiannya, setelah aku melihat sendiri dahsyatnya kematian yang dialami oleh Rasulullah Saw”.
Ingatkah kalian? Disaat beratnya menghadapi kematian tersebut beliau masih memikirkan umatnya.
Ingatkah kalian di saat malaikat Jibril datang kepada beliau, dan beliau menanyakan bagaimana nanti umat beliau…
Saat Baginda Rasulullah Saw. berkata kepada Jibril menjelang wafatnya, “Siapakah orang yang menggantikanku untuk ummatku?” Kemudian Allah mewahyukan kepada Jibril,”Berilah kabar gembira kepada kekasih-Ku, bahwa aku tidak akan menjadikannya hina di tengah umatnya, dan berilah kabar gembira kepadanya, bahwasannya dia adalah orang yang paling cepat keluar dari bumi jika dibangkitkan, dan sesungguhnya surga itu diharamkan kepada semua umat sehingga dimasuki oleh umatnya”. Setelah itu Rasulullah Saw. Bersabda, “Sekarang mataku menjadi tenang”.
Ah… sungguh tak tertandingi kemuliaan hatimu yaa Rasulullah…
Sungguh benarlah firman Allah bahwa engkaulah suri teladan umat manusia yang tiada bandingnya…
Ah… betapa besarnya cintamu kepada kami wahai kekasih Allah. Di akhir hayatmu pun engkau masih mengingat dan berwasiat serta menangis untuk kami.
Kami tahu, air matamu yang mulia itu membasahi pipimu karena mengkhawatirkan kami. Umatmu ini.
Engkau takut kami tersesat, engkau takut kami berpaling dari Allah. Engkau takut, ada diantara kami yang tidak dimasukkan ke dalam surga-Nya, tidak berjumpa denganmu di sana, di dalam majelismu itu…
Ah… Kekasihku…
Air mataku pun tak terbendung lagi. Setiap mengenang saat-saat terakhir di dalam hidupmu itu..
Saat engkau dan para sahabatmu menangis, engkau pun bersabda : “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kalian, dan semoga Allah memberikan balasan kebaikan dari Nabi kalian”.
Aku takut ya Rasulullah, dirikukah orang yang membuat air mata muliamu itu membasahi pipimu?
Dirikukah orang yang engkau khawatirkan ya Rasul?
Dirikukah yang engkau sebut “ummati.. ummati…” di dalam hadits-haditsmu…
Ya Rasul, tentulah engkau akan kembali menangis, seandainya engkau melihat kami di penghujung zaman ini.
Betapa benyak di antara kami, yang meninggalkan perintah Tuhanmu, dan justru melaksanakan larangan-Nya.
Kamikah umatmu itu ya Rasul…?
Tentulah air matamu akan kembali mengalir. Karena begitu banyak dari umatmu yang hidup tanpa mewarisi risalahmu. Sepanjang hidupmu engkau mengatur umatmu dengan Al-Qur’an, sementara saat ini mereka mengatur kehidupan ini dengan aturan buatan mereka sendiri, dengan hawa nafsu mereka sendiri…
Di akhir hayatmu pun engkau menangis karena kami…
Sementara kami tak sekalipun menangis karena dosa-dosa kami…
Tak sekali pun menangis karena merindukanmu ya Rasul…
Umatmu kini, tak lagi mengikutimu. Mereka telah berani menentang Tuhanmu secara terang-terangan.
Para wanita tak lagi menjaga auratnya di hadapan laki-laki…
Laki-laki tak lagi memberi nafkah keluarganya dengan yang halal…
Mereka tak lagi peduli bagaimana cara mereka bergaul…
Anak tak lagi punya bakti kepada kedua orang tuanya…
Orang tua tak lagi peduli dengan agama anak-anaknya…
Para penguasa, tak lagi mengurusi rakyatnya dengan Al-Qur’an dan Sunnahmu…
Terlaknatlah kami jika seperti ini…
Ya Rasulullah…
Demi Allah yang menggenggam jiwaku…
Sejak detik ini, selama nafas masih milikku, akan jujadikan engkau kekasih yang selalu ada di hatiku. Akan kulanjutkan risalahmu. Akan kulanjutkan kehidupan islam yang teah engkau bentuk untuk umatmu dahulu. Akan kujadikan kau selalu di hatiku, yang akan membiming hidupku. Akan kusucikan namamu dari segala fitnah musuh-musuhmu.
Demi Allah wahai cintaku…
The last comment